Pages

Pages - Menu

Senin, 31 Maret 2014

Curug Cibareubeuy, Pak Ocid, Saung Kehangatan dan Indahnya Kesendirian

Curug Cibareubeuy, Pak Ocid, Saung Kehangatan dan Indahnya Kesendirian
        Mentari pagi memaksa menyelundupkan cahayanya memasuki ruangan kecil di sudut kota Bandung, yah kota yang dulunya merupakan sebuah danau purba yang mengering sehingga menjadi Bandung saat ini. Pagi ini ketika mentari memaksa tubuh yang masih berselimut kehangatan ini untuk  bergegas dibersihkan dan dimanjakan dengan wewangian, teringat bahwa pagi ini pagi di hari sabtu, hari dimana pasangan setianya hari minggu dan menjadi sepasang hari yang sangat ditunggu oleh saya, dia, kami, dan mereka para penggiat alam ataupun pencari jati diri.
          Hari ini tidak seperti biasanya, tak ada satupun yang mengajak sekedar berkunjung ke bukit, lereng, pantai atau kemanapun, entah mereka masih tertidur dan bermimpi indah atau berlari dari kenyataan untuk berpetualang. Sepertinya untuk saat ini, saat diaman kesendirian dimaknai dan dinikmati, berjalan menyusuri sawah diantara bukit pedesaan dan sungai jernih yang mengalir tanpa henti menjadi pilihan terbaik daripada teupuguh gawe mikiran nu teu pasti!.
           Setelah beberapa menit googling, pilihan pun jatuh kepada tempat kelahiran saya yaitu Subang, lebih tepatnya sebuah air terjun/curug yang tersembunyi dibalik bukit dan pesawahan desa Cibeusi, Kab. Subang, Jawa Barat. Perjalanan dari Bandung menggunakan motor memakan waktu sekitar 1 - 1,5 jam saja, setelah melewati Lembang, Cikole, perkebunan kebun teh Ciater dan sampai di Sari Ater Hot Spring Water, berbeloklah ke arah kanan sebelum gerbang masuk Sari Ater dan menelusuri jalan yang sedikit berbatu sekitar 2 km. Setelah melewati jalan berbatu, jalanan aspal pun muncul sebelum memasuki gerbang Desa Cibeusi.
           Akhirnya kuda besi tua inipun bisa beristirahat sejenak setelah berhenti di sebuah warung bakso dan mengisi perut sebelum kaki ini melangkah diantara bebatuan dan tanah pesawahan. Setelah berpamitan dengan empunya warung bakso, dengan mengucap Bismillah kaki kanan ini pun melangkah terlebih dahulu meninggalkan warung bakso, jalan pedesaan menjadi awal kaki ini berpijak, dan tak lama kemudian pinggiran sungai menjadi teman perjalanan sebelum memasuki pematang sawang dan aliran sungai nan jernih.
Using a Tripod hehe

Cuci muka dulu biar terlihat segar jon!

Tuh kan, airnya juara pisan hehe
          
Padi menguning menemani kesendirian ini (lebay)
        Pematang sawah dengan padi menguning menjadi pemandangan menakjubkan ditengah rasa kesendirian yang perlahan hilang ditelan suasana, dari pematang sawah pun sudah terlihat curug indah diantara lebatnya pepohonan dan bukit-bukit yang menjulang. Sekitar 45 menit berjalan melewati sawah dan sungai, perjalanan berlanjut melewati pinggiran sungai dan hutan selama kurang lebih 15 menit sebelum tiba di Saung Pak Ocid.
Lewati sawah, susuri sungai :D

Jalan setapak menuju saung Pak Ocid dan Curug Cibareubeuy

Petunjuk jalan menuju Curug Cibareubeuy
           Dan setelah melewati rerimbunan pohon dan jembatan awi, terlihat beberapa saung beratap ijuk yang membawa pesan damai dan indah dari tengah hutan yang mulai digerogoti oleh yang katanya khalifah fil ardhi ini. Tiba di saung saya pun disambut oleh lelaki paruh baya bernama Pak Ocid yang ditemani Pak Alex , beliau (Pak Ocid) adalah pemilik dari saung-saung yang terdapat di sekitar Curug Cibareubeuy. Dan menurut saya saung-saung ini tak kalah dari hotel berbintang hehe
Saung beratap ijuk di sekitar Curug Cibareubeuy
         Beristirahat sejenak sembari menghirup segarnya udara di saung menjadi moment yang harus dirasakan, oh lupa kopi hitam dan Tuhan 8cm menemani juga hehe. Beberapa saat menikmati keindahan dan kedamaian ini, obrolan ringan antara saya, pak Ocid dan pak Alex. Ngariung sembari ngobrol mengenai saung, curug Cibarebeuy, batu runggit dan lainnya tidak cukup sebentar, mungkin butuh 2 - 3 sks di perkuliahan haha. Satu fakta yang membuat saya kagum, bahwa pak Ocid membangun saung-saung ini selama belasan tahun! wooooow it's amazing mate! hatur nuhun caritana pak Ocid ^_^

Pak Alex dan Pak Ocid 

View saung dan sekitarnya
          Hampir lupa, niatnya ke curug ko jadi betah di saung gini haha. Mencukupkan diri dengan obrolan ringan di saung, saya berpamitan sebentar untuk menikmati hembusan angin bertemankan air dari curug Cibareubey, berjalan beberapa menit dari saung sudah terdengar suara air yang terjatuh dari ketinggian sekitar 90 meter, bertanda curug Cibareubeuy sudah tak jauh dari kaki ini melangkah. Dan akhirnya curug yang menjulang setinggi kurang lebih 90 meter ini terlihat begitu mempesona, menantang dan menyadarkan betapa indahnya segala yang diciptakan oleh-Nya sehingga khalifah fil ardhi ini sepatutnya menjaga dan memperjuangkan bukan hanya merusak. Salam Lestari!!!


Nuhun tripod, anda selalu setia..

Curug Cibareubeuy

Edisis Black and White-nya
        "Berjalan sendiri kadang lebih menyadari keadaan, bahwa nanti  setelah bumi berakhir segalanya yang ada di tubuh ini menjadi saksi atas apa yang kita lakukan selama hidup di bumi ", Bumi Siliwangi, 01 April 2014

Satu petuah dari pak Ocid :
"Leweung hejo abah ngejo, leweung rusak abah balangsak"

Rabu, 26 Maret 2014

Merapi, Antara Keagungan Tuhan, Keresahan dan Perempuan Surabaya

 Antara Keagungan Tuhan, Keresahan dan Perempuan Surabaya
       Di bulan Oktober 2 tahun yang lalu, tiba-tiba ponsel bergetar menandakan ada pesan masuk atau ada telfon dari entah siapa namanya. Oh ternyata pesan itu datang dari Galih, seorang sahabat saya di kampus, terlihat dari isi pesannya  mengajak saya untuk berjalan-jalan ke ketinggian menyambut mentari terbit sembari mengobrol ringan yang menandakan adanya kegundahan dan keresahan (red. Galau) haha
         Tanpa obrolan panjang, setelah memesan tiket bis menuju jogja dan menentukan tujuan perjalanan kali ini kami beranjak dari Kota Kembang menuju Kota Gudeg. Pada hari itu, kamis 20 September 2012 kami tiba di Jogja. Singkat cerita setelah menyusuri indahnya pantai selatan Jogja dan melebur diantara keramaian dan gemerlap Jogja, tujuan selanjutnya berjalan kaki menelusuri tanah dan bebatuan yang semakin meninggi dari arah New Selo.
         Yaaaaah merapi-lah yang kami jadikan tujuan selanjutnya, setelah Galih menghubungi seseorang yang entah belum saya ketahui siapa dan apa jenisnya, kami melanjutkan perjalanan ini dengan tujuan akhir daerah Selo. Menikmati perjalanan bertemankan keadaan hati yang entah seperti apa bentuknya pun kami nikmati saja, karena memang harus begitu "Hadapi, jangan kabur sebagai pecundang!" haha
          
Galaumen !!!, Resah dan Gelisah :D
         Waktu berputar searah jarum jam, tak terasa tiba juga di kaki Merapi dimana perjalanan akan semakin menajak, tidak sebatas menanjak membawa beban berat diatas pundak tapi beban dalam ego masing-masing yang lebih berat dari sekarung beras.
Mulai menapaki Merapi
          Oh yaah hampir lupa, saya pun bertemu dengan sosok perempuan imut nan jelita yang ternyata dialah yang sedari kemarin ber-sms-an dengan Galih haha Ternyata ada "Bunga" ditengah terik matahari dan panasnya Merapi. Dan ternyata bunga itu bernama Novi lengkapnya Novianti Dyah Ayuningtyas, mahasiswi tingkat pertama salah satu pergguruan tinggi di Kota Pahlawan.
Nah ini, Novi :D fotonya pas lagi di Stone Garden, Goa Pawon.
          Akhirnya perjalanan menanjak kami lanjutkan, beberapa jam perjalanan akhirnya kami sedikit lagi mancapai titik akhir perjalanan hari ini. Setiba di camp terakhir sebelum pasar Bubrah tenda pun didirikan untuk sekedar melindungi kegelisahan dan kegundahan ini dari dinginnya malam di ketinggian.
Teman selama perjalanan, Gokil!

Tiba di Camp dan sedikit mengabadikan momen yang ber-backgroun Merbabu

Camp sebelum pasar Bubrah

Galaunya menjadi-jadi meeeeen!!!
          Malam pun datang, dingin kembali merasuk dari celah-celah jahitan tenda tua menusuk kulit hinggga sampai ke tulang. Mungkin Tuhan menghendaki raga dan rasa ini untuk beristirahat sejenak dalam dunia mimpi. ZzzZZzzzzz Selamat malam resah dan gelisah, esok masih ada jangan dulu pergi...haha
           Mentari menyapa dengan secercah harapan untuk kegundahan dan keresahan ini agar tersenyum menerima keadaan pada saat itu, Aaaaah pagi buuuuung, kita mulai lagi berjalan meninggi meninggalkan kegundahan menuju puncak Gunung, tempat selain masjid atau mushola untuk menyadari kebesaran Tuhan dan betapa kecilnya diri ini. Oh tapi sayangnya si Bunga (red. Novi) tidak ikut kami ke puncak Merapi dikarenakan kondisi fisik yang kurang fit, gws mate...

Jalan pasir bertaburkan bebatuan mewarnai perjalanan menuju puncak Merapi


Sudut lain Merapi

Langit biru menjadi warna dominan langit kala itu


Akhirnya.... Nuhun Ya Alloh
Indonesia Selalu Mengagumkan!!!
         Beberapa lama menikmati pemandangan indah dari sudut lain sebelum tanah tertinggi Gunung Merapi yang ditemani wangi belerang dan teriknya sang Surya, kami memutuskan untuk pulang membawa pesan kerinduan untuk kembali kesini nantinya. Setelah perjalanan terjal menuruni tanah, pasir dan bebatuan, kami pun tiba di camp dan bersegera mengemasi barang-barang. Oh ya si gundah dan resah perlahan memudar dihapus keringat kagum dan rasa syukur akan tanah air kita Indonesia. Memudar bukan berarti hilang tanpa jejak, masih ada tersisa sedikit noda yang sangat sulit terhapuskan, oh resah dan gundah sepertinya bukan milik Galih semata tapi saya juga berhak memilikinya haha
          Sebelum berpisah kami sempat berfoto bersama Novi, yah dialah Bunga ditengah terik dan panasnya tanah Merapi yang membawakan arti akan keresahan tak selamanya terjadi. Mungkin setelah perjalanan Merapi inilah kisah Perempuan Surabaya itu berlanjut entah sampai kapan dan entah dengan siapa itu, bisa dengan Galih atau mungkin dengan saya (Ngarep). Selamat tinggal merapi, jogja dan novi.. sampai bertemu lagi di Bandung dan Sempu..
Saya dan Galih, dua lelaki resah yang mempunyai arah bila kembali resah.

Oh yeaah, berfoto dulu biar terkenang selalu

Hatur Nuhun telah memberi arti akhir dari sebuah keresahan
    "Keresahan ataupun kegalauan itu nikmati saja, nantipun akan tenggelam ditelan rasa yang lebih indah yang terbit membutuhkan proses semalam layaknya Bumi ini setia menunggu Surya kembali terbit". Bumi Siliwangi, 27 Maret 2014

Rengganis Hot Spring Water

Kehangatan Pelukan Belerang
         Awal Juli di tahun kemarin menjadi moment yang selalu teringat dalam benak kami, betapa disibukkan dengan berbagai kegiatan di Desa Ciwidey yang kebetulan disanalah tempat kami beberapa orang mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia melaksanakan salah satu kewajiban kampus mengabdi kepada masyarakat dalam progam KKN (Kuliah Kerja Nyata).
       Yah disela-sela kegiatan KKN kami sepakat untuk mengunjungi sudut lain dari Gunung Patuha atau lebih terkenalnya Kawah Putih yang tepatnya terletak di Kec. Ciwidey, kemanakah kami? yaah kami akan memeluk hangatnya belerang ditemani suasana damai pedesaan. Perjalanan dimulai dari Posko KKN di Desa Ciwidey, perjalanan dimulai dengan menaiki motor selama 30 menit, setelah melewati obyek wisata Kawah Putih dan Situ Patenggang kami melanjutkan kembali perjalanan beberapa menit untuk menuju Kawah Rengganis, setiba di gerbang pos, kami melanjutkan perjalanan ditemani indahnya perkebunan teh dan hutan yang memanjakan mata serta paru-paru. Oh iya ada stadion alami loh, lapangan yang dilengkapi tribun penonton alami ckck.
Perkebunan teh yang difasilitasi stadion sepakbola alami :D

Ayo melangkah sambil menghirup segarnya udara pegunungan
       Alhamdulillah, akhirnya bau belerang sudah tercium bertanda kawah semakin dekat dan benar ternyata kawah Rengganis yang kami penasari seperti apa rupanya mulai menunjukan wujudnya hehe. Berfoto dulu lah biar ga hoax meeeeeeen!
Akhirnya!

Thanks God

Ucil, Mia, Kinan, Ahmad, Nita, Bebek, Alin, Opik berfoto dulu biar kece

sediki Long exposure

Jump!

Ahmad meratapi nasibnya.. haha

And here we are enjoying our time :D

View-nya bikin betah :D
        Berfoto sudah, menghirup kesegaran kawah Rengganis pun sedang, nah tinggal memanjakan raga ini. Bermandikan kehangatan air Kawah Rengganis sangat cocok untuk sejanak menghilangkan kesemrawutan pikiran dan kegalauan hati. Loh ko galau sih? yaah walaupun galau diartikan sibuk beramai-ramai tpi ketidak karuan pikiran pun bisa diartikan galau, tinggal pilih saja mana "galau" versi kita masing-masing, tak usah berdebat haha
Laki - laki setengah jadi haha

Mandi dulu, udah seminggu ga mandi nih mereka berdua :D

Ibu - ibu sebelum tua

Eh anita :D

Nah loh berdua saja, Kakeknya jeles tuh!

Nikmati dulu saja :D

         Tampaknya waktu mulai bergelincir ke arah matahari terbenam, menandakan kami harus bergegas keluar dari kehangatan ini dan pulang ke Desa Ciwidey. Ah tak apa sudah sangat cukup hari ini, Hatur nuhun Rengganis atas kehangatan yang kau berikan kepada kami sehingga kami bisa lebih bersyukur atas apa yang kami miliki dan nikmati saat itu begitu pula saat ini. Semoga kita lebih pandai mensyukuri apapun daripada lebih banyak menyalahkan keadaan.
"Indonesia, tanah dimana kita lahir, hidup dan mati. Selayaknya kita menjaganya demi anak cucu kita"

Hamparan Awan cikuray

Cikuray, Surga Hamparan Awan


Dimulai obrolan ringan, saat itu di bulan sebelum syawal dipastikan mengunjungi salah satu gunung api yang sudah tidak aktif lagi entah dari kapan. Semuanya berpuasa kecuali beberapa rekan saya, maklum musafir haha. Tak salah memilih waktu ketika ramadhan, hanya kami yang kebetulan berkesempatan menikmati pepohonan dan udara diketinggian Cikuray.

Singkat cerita diperjalanan yang panjang, tanpa minum dan makan sedikitpun hanya nelegan ciduh (menelan air ludah). Sebelum adzan magrib berkumandang kami pun sampai di titik tertinggi Cikuray, yah terdapat sebuah bangunan tua yang menjadi shelter untuk para pendaki berlindung dari dinginnya udara Cikuray.

Masih sempat kami mengabadikan betapa indahnya setitik dari INDONESIA ini dan betapa mengagumkan ciptaan Tuhan yang disebut Bumi ini.

"Bagi saya dan mungkin semua orang yang tidur, makan dan berak di Tanah Air ini akan setuju betapa indahnya Indonesia ini"