Curug Cibareubeuy, Pak Ocid, Saung Kehangatan dan Indahnya Kesendirian
Mentari pagi memaksa menyelundupkan cahayanya memasuki ruangan kecil di sudut kota Bandung, yah kota yang dulunya merupakan sebuah danau purba yang mengering sehingga menjadi Bandung saat ini. Pagi ini ketika mentari memaksa tubuh yang masih berselimut kehangatan ini untuk bergegas dibersihkan dan dimanjakan dengan wewangian, teringat bahwa pagi ini pagi di hari sabtu, hari dimana pasangan setianya hari minggu dan menjadi sepasang hari yang sangat ditunggu oleh saya, dia, kami, dan mereka para penggiat alam ataupun pencari jati diri.
Hari ini tidak seperti biasanya, tak ada satupun yang mengajak sekedar berkunjung ke bukit, lereng, pantai atau kemanapun, entah mereka masih tertidur dan bermimpi indah atau berlari dari kenyataan untuk berpetualang. Sepertinya untuk saat ini, saat diaman kesendirian dimaknai dan dinikmati, berjalan menyusuri sawah diantara bukit pedesaan dan sungai jernih yang mengalir tanpa henti menjadi pilihan terbaik daripada teupuguh gawe mikiran nu teu pasti!.
Setelah beberapa menit googling, pilihan pun jatuh kepada tempat kelahiran saya yaitu Subang, lebih tepatnya sebuah air terjun/curug yang tersembunyi dibalik bukit dan pesawahan desa Cibeusi, Kab. Subang, Jawa Barat. Perjalanan dari Bandung menggunakan motor memakan waktu sekitar 1 - 1,5 jam saja, setelah melewati Lembang, Cikole, perkebunan kebun teh Ciater dan sampai di Sari Ater Hot Spring Water, berbeloklah ke arah kanan sebelum gerbang masuk Sari Ater dan menelusuri jalan yang sedikit berbatu sekitar 2 km. Setelah melewati jalan berbatu, jalanan aspal pun muncul sebelum memasuki gerbang Desa Cibeusi.
Akhirnya kuda besi tua inipun bisa beristirahat sejenak setelah berhenti di sebuah warung bakso dan mengisi perut sebelum kaki ini melangkah diantara bebatuan dan tanah pesawahan. Setelah berpamitan dengan empunya warung bakso, dengan mengucap Bismillah kaki kanan ini pun melangkah terlebih dahulu meninggalkan warung bakso, jalan pedesaan menjadi awal kaki ini berpijak, dan tak lama kemudian pinggiran sungai menjadi teman perjalanan sebelum memasuki pematang sawang dan aliran sungai nan jernih.
 |
| Using a Tripod hehe |
 |
| Cuci muka dulu biar terlihat segar jon! |
 |
| Tuh kan, airnya juara pisan hehe |
 |
| Padi menguning menemani kesendirian ini (lebay) |
Pematang sawah dengan padi menguning menjadi pemandangan menakjubkan ditengah rasa kesendirian yang perlahan hilang ditelan suasana, dari pematang sawah pun sudah terlihat curug indah diantara lebatnya pepohonan dan bukit-bukit yang menjulang. Sekitar 45 menit berjalan melewati sawah dan sungai, perjalanan berlanjut melewati pinggiran sungai dan hutan selama kurang lebih 15 menit sebelum tiba di Saung Pak Ocid.
 |
| Lewati sawah, susuri sungai :D |
 |
| Jalan setapak menuju saung Pak Ocid dan Curug Cibareubeuy |
 |
| Petunjuk jalan menuju Curug Cibareubeuy |
Dan setelah melewati rerimbunan pohon dan jembatan
awi, terlihat beberapa saung beratap ijuk yang membawa pesan damai dan indah dari tengah hutan yang mulai digerogoti oleh yang katanya
khalifah fil ardhi ini. Tiba di saung saya pun disambut oleh lelaki paruh baya bernama Pak Ocid yang ditemani Pak Alex , beliau (Pak Ocid) adalah pemilik dari saung-saung yang terdapat di sekitar
Curug Cibareubeuy. Dan menurut saya saung-saung ini tak kalah dari hotel berbintang hehe
 |
| Saung beratap ijuk di sekitar Curug Cibareubeuy |
Beristirahat sejenak sembari menghirup segarnya udara di saung menjadi
moment yang harus dirasakan, oh lupa kopi hitam dan
Tuhan 8cm menemani juga hehe. Beberapa saat menikmati keindahan dan kedamaian ini, obrolan ringan antara saya, pak Ocid dan pak Alex.
Ngariung sembari ngobrol mengenai saung,
curug Cibarebeuy, batu runggit dan lainnya tidak cukup sebentar, mungkin butuh 2 - 3 sks di perkuliahan haha. Satu fakta yang membuat saya kagum, bahwa pak Ocid membangun saung-saung ini selama belasan tahun! wooooow it's amazing mate!
hatur nuhun caritana pak Ocid ^_^
 |
| Pak Alex dan Pak Ocid |
 |
| View saung dan sekitarnya |
Hampir lupa, niatnya ke
curug ko jadi betah di saung gini haha. Mencukupkan diri dengan obrolan ringan di saung, saya berpamitan sebentar untuk menikmati hembusan angin bertemankan air dari
curug Cibareubey, berjalan beberapa menit dari saung sudah terdengar suara air yang terjatuh dari ketinggian sekitar 90 meter, bertanda
curug Cibareubeuy sudah tak jauh dari kaki ini melangkah. Dan akhirnya
curug yang menjulang setinggi kurang lebih 90 meter ini terlihat begitu mempesona, menantang dan menyadarkan betapa indahnya segala yang diciptakan oleh-Nya sehingga
khalifah fil ardhi ini sepatutnya menjaga dan memperjuangkan bukan hanya merusak. Salam Lestari!!!
 |
| Nuhun tripod, anda selalu setia.. |
 |
| Curug Cibareubeuy |
 |
| Edisis Black and White-nya |
"Berjalan sendiri kadang lebih menyadari keadaan, bahwa nanti setelah bumi berakhir segalanya yang ada di tubuh ini menjadi saksi atas apa yang kita lakukan selama hidup di bumi ", Bumi Siliwangi, 01 April 2014
Satu petuah dari pak Ocid :
"Leweung hejo abah ngejo, leweung rusak abah balangsak"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar