Pages

Pages - Menu

Rabu, 26 Maret 2014

Merapi, Antara Keagungan Tuhan, Keresahan dan Perempuan Surabaya

 Antara Keagungan Tuhan, Keresahan dan Perempuan Surabaya
       Di bulan Oktober 2 tahun yang lalu, tiba-tiba ponsel bergetar menandakan ada pesan masuk atau ada telfon dari entah siapa namanya. Oh ternyata pesan itu datang dari Galih, seorang sahabat saya di kampus, terlihat dari isi pesannya  mengajak saya untuk berjalan-jalan ke ketinggian menyambut mentari terbit sembari mengobrol ringan yang menandakan adanya kegundahan dan keresahan (red. Galau) haha
         Tanpa obrolan panjang, setelah memesan tiket bis menuju jogja dan menentukan tujuan perjalanan kali ini kami beranjak dari Kota Kembang menuju Kota Gudeg. Pada hari itu, kamis 20 September 2012 kami tiba di Jogja. Singkat cerita setelah menyusuri indahnya pantai selatan Jogja dan melebur diantara keramaian dan gemerlap Jogja, tujuan selanjutnya berjalan kaki menelusuri tanah dan bebatuan yang semakin meninggi dari arah New Selo.
         Yaaaaah merapi-lah yang kami jadikan tujuan selanjutnya, setelah Galih menghubungi seseorang yang entah belum saya ketahui siapa dan apa jenisnya, kami melanjutkan perjalanan ini dengan tujuan akhir daerah Selo. Menikmati perjalanan bertemankan keadaan hati yang entah seperti apa bentuknya pun kami nikmati saja, karena memang harus begitu "Hadapi, jangan kabur sebagai pecundang!" haha
          
Galaumen !!!, Resah dan Gelisah :D
         Waktu berputar searah jarum jam, tak terasa tiba juga di kaki Merapi dimana perjalanan akan semakin menajak, tidak sebatas menanjak membawa beban berat diatas pundak tapi beban dalam ego masing-masing yang lebih berat dari sekarung beras.
Mulai menapaki Merapi
          Oh yaah hampir lupa, saya pun bertemu dengan sosok perempuan imut nan jelita yang ternyata dialah yang sedari kemarin ber-sms-an dengan Galih haha Ternyata ada "Bunga" ditengah terik matahari dan panasnya Merapi. Dan ternyata bunga itu bernama Novi lengkapnya Novianti Dyah Ayuningtyas, mahasiswi tingkat pertama salah satu pergguruan tinggi di Kota Pahlawan.
Nah ini, Novi :D fotonya pas lagi di Stone Garden, Goa Pawon.
          Akhirnya perjalanan menanjak kami lanjutkan, beberapa jam perjalanan akhirnya kami sedikit lagi mancapai titik akhir perjalanan hari ini. Setiba di camp terakhir sebelum pasar Bubrah tenda pun didirikan untuk sekedar melindungi kegelisahan dan kegundahan ini dari dinginnya malam di ketinggian.
Teman selama perjalanan, Gokil!

Tiba di Camp dan sedikit mengabadikan momen yang ber-backgroun Merbabu

Camp sebelum pasar Bubrah

Galaunya menjadi-jadi meeeeen!!!
          Malam pun datang, dingin kembali merasuk dari celah-celah jahitan tenda tua menusuk kulit hinggga sampai ke tulang. Mungkin Tuhan menghendaki raga dan rasa ini untuk beristirahat sejenak dalam dunia mimpi. ZzzZZzzzzz Selamat malam resah dan gelisah, esok masih ada jangan dulu pergi...haha
           Mentari menyapa dengan secercah harapan untuk kegundahan dan keresahan ini agar tersenyum menerima keadaan pada saat itu, Aaaaah pagi buuuuung, kita mulai lagi berjalan meninggi meninggalkan kegundahan menuju puncak Gunung, tempat selain masjid atau mushola untuk menyadari kebesaran Tuhan dan betapa kecilnya diri ini. Oh tapi sayangnya si Bunga (red. Novi) tidak ikut kami ke puncak Merapi dikarenakan kondisi fisik yang kurang fit, gws mate...

Jalan pasir bertaburkan bebatuan mewarnai perjalanan menuju puncak Merapi


Sudut lain Merapi

Langit biru menjadi warna dominan langit kala itu


Akhirnya.... Nuhun Ya Alloh
Indonesia Selalu Mengagumkan!!!
         Beberapa lama menikmati pemandangan indah dari sudut lain sebelum tanah tertinggi Gunung Merapi yang ditemani wangi belerang dan teriknya sang Surya, kami memutuskan untuk pulang membawa pesan kerinduan untuk kembali kesini nantinya. Setelah perjalanan terjal menuruni tanah, pasir dan bebatuan, kami pun tiba di camp dan bersegera mengemasi barang-barang. Oh ya si gundah dan resah perlahan memudar dihapus keringat kagum dan rasa syukur akan tanah air kita Indonesia. Memudar bukan berarti hilang tanpa jejak, masih ada tersisa sedikit noda yang sangat sulit terhapuskan, oh resah dan gundah sepertinya bukan milik Galih semata tapi saya juga berhak memilikinya haha
          Sebelum berpisah kami sempat berfoto bersama Novi, yah dialah Bunga ditengah terik dan panasnya tanah Merapi yang membawakan arti akan keresahan tak selamanya terjadi. Mungkin setelah perjalanan Merapi inilah kisah Perempuan Surabaya itu berlanjut entah sampai kapan dan entah dengan siapa itu, bisa dengan Galih atau mungkin dengan saya (Ngarep). Selamat tinggal merapi, jogja dan novi.. sampai bertemu lagi di Bandung dan Sempu..
Saya dan Galih, dua lelaki resah yang mempunyai arah bila kembali resah.

Oh yeaah, berfoto dulu biar terkenang selalu

Hatur Nuhun telah memberi arti akhir dari sebuah keresahan
    "Keresahan ataupun kegalauan itu nikmati saja, nantipun akan tenggelam ditelan rasa yang lebih indah yang terbit membutuhkan proses semalam layaknya Bumi ini setia menunggu Surya kembali terbit". Bumi Siliwangi, 27 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar